Tampilkan postingan dengan label Tauladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauladan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2016

Hal yang membatalkan Keislaman

Assalamu Alaikum wr wb. Perlu diketahui bahwa ada beberapa hal yang dapatmembatalkan Keislaman seseorang, dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh macam yang wajib dihindari yaitu :
Membatalkan-keislaman

Mempersekutukan Allah dalam Ibadah

Allah SWT berfirman : "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya (kelak) adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. Dan diantara perbuatan syirik tersebut ialah berdoa dan memohon pertolongan kepada orang-orang yang telah mati, begitu pula bernazar dan menyembelih kurban demi mereka."

Berdoa kepada selain Allah atau Perantara-Nya

Barangsiapa yang menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah, berdoa dan memohon syafa’at serta bertawakkal kepada perantara tersebut maka hukumnya kafir menurut kesepakatan para ulama (ijma’).

Tidak Mengkafirkan Orang-Orang Musyrik

Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan paham (mahzab) mereka, maka dengan demikian dia telah kafir.

Berkeyakinan Kepada Thaghut dan Mengenyampingkan Hukum Rasulullah SAW

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa selain tuntunan Nabi Muhammad SAW itu lebih sempurna atau selain ketentuan hukum beliau lebih baik, sebagaimana mereka yang mengutamakan aturan-aturan manusia yang melampaui batas lagi menyimpang dari hukum Allah (aturan-aturan Thaghut), dan mengenyampingkan hukum Rasulullah SAW, maka yang berkeyakinan seperti itu adalah kafir. Contoh :
  1. Berkeyakinan bahwa aturan-aturan dan perundang-undangan yang diciptakan manusia lebih utama dari pada syariat Islam atau berkeyakinan bahwa aturan Islam tidak layak untuk diterapkan pada abad modern ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum Muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu khusus mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya saja, tidak mengatur segi kehidupan lain. 
  2. Berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah seperti memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina yang telah kawin (muhshan) tidak cocok lagi dengan zaman sekarang. 
  3. Berkeyakinan bahwa boleh menggunakan selain hukum Allah dalam segi mu’amalat Syariah (seperti perdagangan, sewa menyewa dsb), atau dalam hukum pidana, atau lainnya, sekalipun tidak disertai dengan keyakinan bahwa hukum-hukum tersebut lebih utama dari Syariat Islam. Karena dengan demikian berarti ia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah menurut kesepakatan para ulama (ijima’) sedangkan setiap orang yang menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah dalam agama, seperti berzina, minum khamar (segala minuman yang memabukkan), riba dan menggunakan undang-undang selain Syariat Allah, maka ia adalah kafir menurut kesepakatan para ulama (ijima’).

Tidak Menyukai Syariat Rasulullah SAW

Barangsiapa yang membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai syariat beliau, sekalipun ia ikut mengamalkannya, maka ia menjadi kafir, karena Allah SWT berfirman :"Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) segala amal perbuatan mereka".

Mengolok-Olok Allah, Kitab-Nya, dan Rasul-Nya

Barangsiapa yang mengolok-olok Allah, atau Kitab-Nya, atau Rasul-Nya, atau sesuatu yang merupakan ajaran agama-Nya, maka ia menjadi kafir, karena Allah SWT telah berfirman :"Katakanlah (wahai Muhammad) : "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok ? Tidak usah kamu minta maaf. Karena kamu telah kafir setelah beriman".

Mengamalkan Ilmu Sihir

Sihir, diantaranya adalah ilmu guna-guna atau santet (sharf) yaitu merubah kecintaan seorang suami kepada istrinya menjadi kebencian, begitu juga ilmu pekasih (‘athf) yaitu menjadikan seseorang mencintai sesuatu yang tidak disenanginya dengan cara-cara syetan. Maka barangsiapa yang mengerjakan hal-hal tersebut, atau senang dan rela dengannya berarti ia telah kafir, karena Allah berfirman : "Sedangkan kedua Malaikat itu tidak mengajarkan (suatu sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan, sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir".

Menjadikan Kaum Musyrik teman dan Menjauhi Kaum Muslimin

Membantu dan menolong orang-orang musyrik untuk memusuhi kaum Muslimin, karena Allah berfirman : "Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".

Tidak Mengikuti Syariat Nabi Muhammad SAW

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syariat Muhammad SAW, maka ia adalah kafir, karena Allah berfirman : "Barangsiapa yang mencari Agama selain Agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi".

Berpaling Dari Agama Allah

Berpaling dari agama Allah atau dari hal-hal yang menjadi syarat mutlak sebagai Muslim dengan tanpa mempelajarinya dan tanpa mengamalkannya, karena Allah berfirman : "Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah di peringatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling dari padanya ? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa". Dan Allah juga berfirman : "Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka".

Dalam hal-hal yang membatalkan keislaman ini, tidak ada bedanya antara yang main-main dan yang sungguh-sungguh sengaja melanggar dan yang karena takut terkecuali yang dipaksa. Kita berlindung kepada Allah dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan-Nya dan kepedihan siksa-Nya. Sekian, Wassalamu Alaikum wr wb..
 

Cara mendekatkan diri kepada Allah

Allah SWT telah melebihkan manusia dari semua makhluk yang lain, memberinya keistimewaan nikmat berbicara, dan menjadikan lidah sebagai alat berbicara tersebut. Nikmat berbicara ini bisa digunakan baik dalam kebaikan ataupun kejelekan. Siapa saja mempergunakan nikmat tersebut untuk kebaikan maka akan menghantarkannya kepada kebahagiaan dunia dan derajat yang utama di akhirat, dan siapa saja menggunakannya selain untuk itu, maka ia akan membawanya kepada kehancuran di dunia dan akhirat. Sebaik-baik pemanfaatan waktu setelah membaca Al-Quran adalah berdzikir kepada Allah SWT.


Keutamaan Dzikir banyak sekali hadist yang menerangkan tentang keutamaan dzikir, di antaranya sabda Rasulullah SAW : “Maukah aku kabarkan kepada kalian, amal kalian yang terbaik dan tersuci di sisi Penguasa kalian (Allah), serta tertinggi dalam derajat kalian, juga lebih baik bagi kalian dibandingkan berinfak dengan emas dan uang, dan lebih baik bagi kalian dari pada bertemu musuh kemudian kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian. “Mereka menjawab, “Tentu, Ya Rasulullah SAW”, Beliau pun bersabda, “Berdzikir kepada Allah Ta’ala” (HR. Tirmidzi).

Sabda Rasulullah SAW : “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya bagaikan orang hidup dengan orang mati” (Muttafaq’ Alaihi). Firman Allah SWT dalam hadist Qudsi : “Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku. Bila dia mengingat-Ku pada dirinya maka Aku mengingatnya pada diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku pada suatu kelompok maka Aku mengingatnya pada kelompok yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat satu jengkal kepada-Ku maka Aku akan mendekat satu hasta kepadanya, jika dia mendekat satu hasta kepada-Ku Aku akan mendekat kepadanya satu depa” (HR. Bukhari).

Sabda Rasulullah SAW : “Telah mendahului mufarridun”. Para sahabat bertanya, “Siapakah mufarridun itu ?” Beliau bersabda, “Yaitu kaum lelaki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah” (HR. Muslim).

Sabda Rasulullah SAW ketika menasihati salah seorang sahabat beliau : “Hendaknya lidahmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah” (HR. Tirmidzi).

Memperkuat Tauhid dalam hati

Tauhid menurut bahasa ialah masdar (kata benda) dari kata kerja wahhada yang merupakan pecahan (musytaq) Dari kata waahid yang bermakna satu, tunggal dan sendiri. Dikatakan : wahhadahu danahhadahu, artinya : menyatukannya atau mentauhidkannya. Dan dikatakan pula mutawahhid semakna dengan :munfarid, artinya : sendiri.


Sedangkan menurut istilah syariah : Tauhid ialah mengesakan Allah dalam rububiyah (kesendirian-Nya dalam mencipta, member rezki, mengatur dan seterusnya) dan dalam uluhiyah (beribadah hanya kepada-Nya) tiada sekutu bagi-Nya dan mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang Husna (baik) serta sifat-sifat-Nya yang tinggi. Dan beriman kepada risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan (percaya) bahwa beliau adalah penutup para Nabi serta mengikuti semua yang disampaikan-nya dari Allah.

Apa Yang Dimaksud Dengan Tauhid

Tauhid yang dibawa oleh para Rasul itu ialah yang mengandung penetapan (itsbat) uluhiyah (ibadah) hanya kepada Allah semata dengan bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak beribadah melainkan hanya kepada-Nya, tidak berserah diri (bertawakkal) kecuali kepada-Nya, tidak mencintai (loyal) melainkan karena-Nya, tidak memusuhi kecuali karena-Nya dan tidak melakukan amalan kecuali karena-Nya. Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid semata-mata mengakui tauhid rubuhiyah saja.

Baca juga : 
Semua amal yang tidak ada hubungannya dengan tauhid tidak ada nilainya sama sekali. Allah Ta’ala berfirman : “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS. Ibrahim : 18).

Hukum Mempelajari Tauhid

Hukum mempelajari tauhid ialah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah. Allah Ta’ala berfirman : “Maka ketauhilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang baik) disembah melainkan Allah dan mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu” (QS. Muhammad : 19)
Terima Kasih Sudah Membaca: Cara Agar Tauhid Kuat Di Hati Anda

Faktor yang memantapkan Tauhid dalam Hati

Tauhid itu adalah ibarat sebatang pohon. Ia tumbuh dalam hati seorang mukmin, kemudian tumbuh cabang-cabangnya yang semakin hari semakin panjang dan semakin indah. Demikian pula iman, semakin disirami dengan ketaatan yang dapat mendekatkannya kepada Allah SWT, semakin bertambah pula kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, semakin besar rasa takut dan harapnya serta semakin kuat tawakkalnya kepada-Nya.


Di antara faktor yang dapat menumbuhkan tauhid di dalam jiwa seseorang ialah sebagai berikut :
  1. Berbuat taat karena mengharapkan pahala di sisi Allah.
  2. Meninggalkan maksiat karena takut kepada siksaan Allah.
  3. Memikirkan (tafakkur) tentang ciptaan-ciptaan Allah di langit dan di bumi.
  4. Mengenali nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan memahami konsekuen-konsekuennya, pengaruh-pengaruhnya dan kandungan maknanya yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan.
  5. Senantiasa menimba ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya.
  6. Membiasakan membaca Al-Quran dengan tadabbur (menghayati) dan memahami makna dan maksudnya.
  7. Mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah di samping yang fardhu.
  8. Senantiasa berdzikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi, dengan lidah dan hati.
  9. Mengutamakan apa yang dicintai Allah di atas segala yang dicintai
  10. Memperhatikan segala nikmat Allah, yang zhahir dan yang bathin serta menghadirkan di depan mata, bagaimana kebaikan dan karunia yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.
  11. Memelas dan merendahkan hati di hadapan Allah.
  12. Berkhalwat (menyendiri) dengan Allah pada waktu sepertiga malam terakhir, dengan membaca Al-Quran dan menutupnya dengan istighfar (memohon ampun) dan bertobat kepada-Nya.
  13. Selalu bergaul dan duduk bersama orang-orang shaleh dan ikhlas serta cinta kepada Allah, dan mengambil faedah dari ucapan dan cara hidup mereka.
  14. Menjauhi segala sarana yang dapat menghalangi (berhubungannya) hati dengan Allah.
  15. Meninggalkan perkataan yang tidak berguna, makan berlebihan, bergaul dan memandang kepada yang haram.
  16. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencintai sesuatu bagi saudaranya (sesama muslim), seperti ia mencintai sesuatu itu untuk dirinya sendiri.
  17. Membersihkan hati dari penyakit dengki, takabur, ghurur (merasa serba lebih) dan ujub (membanggakan diri) terhadap kaum mukminin.
  18. Ridha kepada aturan Allah
  19. Bersyukur ketika mendapatkan nikmat, dan bersabar tatkala ditimpa musibah.
  20. Segera kembali (bertobat) kepada Allah kala melakukan dosa.
  21. Memperbanyak amal shaleh, seperti berinfak, berbudi pekerti (akhlak) yang baik, menyambung tali silaturrahim dan lain-lain.
  22. Mengikuti perilaku Nabi SAW dalam segala hal, kecil maupun besar.
  23. Berjihad fisabilillah
  24. Memakan makanan yang baik lagi halal.
  25. Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungkar.
Ya Allah, bahagiakanlah hidup kami dengan tauhid, dan umat kami bersaksi dengan tauhid. Shalawat dan salam semoga tercurah untuk Nabi kita Muhammad, keluarga dan semua sahabatnya.

Hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Telah berungkali timbul pertanyaan tentang hukum upacara (seremoni) peringatan Maulid Nabi SAW, mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya. Jawabannya : harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul-kumpul/pesta-pesta pada malam kelahiran Rasulullah SAW dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bi’dah) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah melakukannya, begitu pula khulafaaurraasyidiin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun waktu yang paling baik, mereka adalah kalangan orang-orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya dan benar-benar menjalankan syariatnya.


Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengada-adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami yang (sebelumnya) tidak pernah ada, maka akan ditolak”. Dan Firman Allah SWT dalam kitab-Nya : “Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah, dan  bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras hukum-Nya” (QS. 59 : 7)

Jika seandainya upacara peringatan maulid nabi itu betul-betul datang dari agama yang diridhai Allah, pasti Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali dan merupakan suatu hal yang diada-adakan (bi’dah), dimana Rasulullah sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi.

Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah (Al Quran) dan sebaik-baik petunjuk, petunjuk Muhammad dan sejahat-jahat perbuatan (dalam agama) ialah yang diada-adakan (bi’dah), sedang tiap-tiap yang bi’dah itu kesesatan”. (HR. Muslim)


Tetapi orang-orang yang datang kemudian, menyelahainya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama tidak mencakup sesuatu kemungkaran, seperti berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah SAW, bercampurnya antara lelaki dan perempuan (bukan mahram), pemakaian alat-alat musik dan lain sebagainya dari hal-hal yang menyalahi syariat. Mereka beranggapan bahwa ini semua adalah merupakan bi’dah hasanah. Sedangkan kaidah syariat mengatakan, bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaklah dikembalikan kepada Al Quran dan sunnah Rasulullah (Hadist).

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Hadist) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang sedemikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS : 4 : 59)

Ternyata, setelah masalah ini (hukum upacara peringatan maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah (Al Quran), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa-apa yang dibawa Rasulullah, menjauhi apa yang dilarang beliau, dan (Al Quran) member penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah SWT telah menyempurnakan agama umat ini. Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah kepada kita dan diperintahkan agar mengikuti Rasulullah.

Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada-adakan, perbuatan yang menyerupai hari-hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani. Hal ini menjadi jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang hak dan mempunyai keobjektifan dalam membahas, bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran Islam melainkan merupakan bi’dah-bi’dah yang diada-adakan, dimana Allah memerintahkan Rasul-Nya agar meninggalkannya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya. Tak layak bagi orang yang berakal, tertipu karena perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakan), tetapi diketahui atas dasar dalil-dalil syara.

Cara Menangkal dan Menanggulangi Sihir

Allah telah mensyariatkan kepada hamba-Nya agar mereka menjauhkan diri dari kejahatan sihir sebelum terjadi pada diri mereka, dan Allah menjelaskan pula tentang bagaimana cara pengobatannya bila terjadi pada diri mereka. Ini merupakan rahmat dan kasih sayang Allah, kebaikan dan kesempurnaan nikmat-Nya kepada hamba-Nya. Berikut ini beberapa penjelasan tentang usaha menjaga diri dari bahaya sihir sebelum terjadi, begitu pula usaha dan cara pengobatannya bila terkena sihir, yakni cara-cara yang dibolehkan menurut hukum syara’.


Tindakan prefentif, yakni usaha menjauhkan diri dari bahaya sihir sebelum terjadi. Cara yang paling penting dan bermanfaat ialah penjagaan dengan melakukan dzikir yang disyariatkan, membaca doa dan ta’awwudz sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Diantaranya seperti dibawah ini :

Membaca Ayat Kursi

Membaca ayat kursi setiap selesai shalat lima waktu sesudah membaca wirid yang disyariatkan ba’da salam, demikian pula dibaca ketika akan tidur. Karena ayat kursi termasuk ayat yang paling besar nilainya di dalam Al Quran. Rasulullah saw bersabda dalam salah satu hadits shahihnya : “Barangsiapa yang membaca ayat Kursi pada malam hari, Allah senantiasa menjaganya dan syaitan tidak akan mendekatinya sampai subuh”.

Membaca Surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas

Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas pada setiap selesai shalat lima waktu, dan membaca ketiga surat tersebut sebanyak tiga kali pada pagi hari sesudah shalat shubuh, dan menjelang malam sesudah shalat maghrib, sesuai dengan hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i.

Membaca Dua Ayat Terakhir Dari Surat Al Baqarah

Membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah ayat 285-286, pada permulaan malam, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada malam hari, cukuplah kedua (ayat tersebut) baginya (maka ia akan terpelihara dari kejahatan)”.

Membaca Ta’awwudz

Banyak membaca ta’awwudz dengan menggunakan kalimat Allah yang sempurna untuk memohon perlindungan diri dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya. Hendaklah dibaca pada malam dan siang hari ketika berada disuatu tempat, ketika masuk ke dalam suatu bangunan ketika berada di tengah padang pasir, di udara atau di laut. Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang turun di suatu tempat dan dia berkata : A’udzu bi Kalimaatillaah attaammati min syarri maa khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan Allah), tidak ada sesuatupun yang membahayakan sampai ia pergi dari tempat itu”.

Membaca Doa

Membaca doa, dibawah ini masing-masing tiga kali pada pagi hari dan menjelang malam : “Dengan nama Allah tidak ada yang membahayakan bersama nama-Nya sesuatupun yang ada di bumi dan di langit, Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Karena (telah diriwayatkan secara shahih) motivasi Rasulullah saw (untuk membaca bacaan di atas) dan bahwa hal itu salah satu penyebab keselamatan dari segala kejahatan. Bacaan dzikir dan ta’awwudz ini merupakan sebab yang besar untuk memperoleh keselamatan dan untuk menjauhkan diri dari kejahatan sihir dan kejahatan lainnya, bagi mereka yang selalu mengamalkannya secara benar disertai keyakinan yang penuh kepada Allah, bertumpu dan pasrah kepada-Nya dengan lapang dada dan hati yang khusyu’.

Dengan bacaan-bacaan seperti ini juga merupakan senjata ampuh untuk menghilangkan sihir yang sedang menimpa seseorang, dibaca dengan hati yang khusyu’, tunduk dan merendahkan diri seraya memohon kepada Allah agar dihilangkan bahaya dan malapetaka yang dihadapi. Doa-doa berdasarkan riwayat yang kuat dari Rasulullah saw untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh sihir dan lain sebagainya seperti berikut :
  • Rasulullah saw menjampi sahabat-sahabatnya dengan bacaan : “Ya Allah, Rabban-Naas…! Hilangkan sakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan melainkan penyembuhan dari-Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit” (HR. Bukhari)
  • Doa yang dibaca Jibril as ketika menjampi Rasulullah saw : “Dengan nama Allah, aku menjampimu dari segala yang menyakitkanmu, dan dari sejahatan setiap diri atau dari pandangan mata yang penuh kedengkian, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku menjampimu”.
  • Pengobatan sihir cara lainnya, terutama bagi laki-laki yang tidak dapat berjimak dengan isterinya karena terkena sihir, yakni : Ambillah tujuh lembar daun bidara yang masih hijau, ditumbuk atau diulek dengan batu atau alat tumbuk lainnya, sesudah itu dimasukkan ke dalam sebuah bejana atau wadah, tuangkan air ke dalam wadah itu secukupnya untuk mandi, bacakan ayat Kursi pada wadah tersebut, bacalah pula surat Al Kafirun, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, dan ayat-ayat sihir dalam surat Al A’raaf ayat 117-119, surat Yunus ayat 79-82 dan surat Thaha ayat 65-69. Setelah selesai membaca ayat-ayat tersebut, hendaklah diminum sedikit airnya dan sisanya dipakai untuk mandi. Dengan cara ini mudah-mudahan Allah SWT dapat menghilangkan penyakit yang sedang diderita dan seandainya masih diperlukan pengobatan seperti ini beberapa kali, boleh saja dilakukan kembali dua kali atau lebih sampai benar-benar hilang penyakitnya.
  • Cara pengobatan lainnya, sebagai cara yang paling bermanfaat ialah berupaya mengerahkan tenaga dan daya untuk mengetahui dimana tempat sihir terjadi, diatas gunung atau ditempat manapun ia berada dan bila sudah diketahui tempatnya, diambil dan dimusnahkan sehingga lenyaplah sihir tersebut.
Inilah beberapa penjelasan tentang perkara-perkara yang dapat menjaga diri dari sihir dan usaha pengobatan atau cara penyembuhannya dan hanya kepada Allah kita mohon pertolongan. Adapun pengobatan dengan cara-cara yang dilakukan oleh tukang-tukang sihir yaitu dengan mendekatkan diri kepada jin disertai penyembelihan hewan atau cara-cara pendekatan diri lainnya, maka semua itu tidak dibenarkan, karena termasuk perbuatan syaitan, bahkan termasuk perbuatan syirik yang paling besar yang wajib dihindari.

Iman kepada Kitab Allah

Secara umum, seorang muslim harus meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dan rasul-Nya dengan tujuan untuk menjelaskan kebenaran.

Allah berfirman : “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan itu” (QS. Al Hadid : 25)


Firman Allah, yang artinya : “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk member keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan” (QS. Al Baqarah : 213)

Selanjutnya, secara khusus seorang muslim harus meyakini kitab-kitab yang nama-namanya telah diberikan Allah kepada manusia, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al Quran.

Kitab Al Quran adalah kitab yang paling utama di antara kitab-kitab lainnya. Al Quran merupakan penutup, pemelihara, dan pembenaran terhadap kitab-kitab lainnya. Al Quran itulah yang harus diikuti oleh seluruh umat manusia di dunia ini. 

Allah menurunkan Al Quran kepada Muhammad Rasulullah untuk dijadikan sumber hukum bagi seluruh manusia, di samping sebagai penyejuk dan penyembuh hati, sebagai penerang atas segala masalah, serta sebagai petunjuk dan rahmat untuk semesta alam. Allah berfirman, “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan, yang diberkahi, maka ikutilah dia, dan bertakwalah agar kamu sekalian mendapat rahmat dari Allah” (QS. Al An’am : 155)

Firman Allah, yang artinya : “……Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (Al Nahl : 89)

“Katakanlah (Muhammad) : ‘Wahai manusia, sesunguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu sekalian, yaitu Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tiada Ilah selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Oleh karena itu, berimanlah kepada Allah dan utusan-Nya, seorang Nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan firman-firman-Nya, maka ikutilah Dia agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Al Araf : 158)

Rukun Islam dan Rukun Iman

Rasulullah saw telah bersabda : “Islam itu didirikan di atas lima sendi yaitu :
  1. Bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
  2. Mendirikan shalat (mengerjakannya dengan memenuhi rukun-rukunnya dan wajibnya serta dikerjakan dengan tenang dan khusyu).
  3. Mambayar zakat, (wajib membayar zakat bila seorang muslim memiliki 85 gram emas atau uang yang senilai dengannya, yaitu membayar 2,5 % bila sudah sampai satu tahun. Adapun harta kekayaan selain uang masing-masing mempunyai ketentuan tersendiri).
  4. Melakukan bepergian (naik haji) ke Baitullah (bagi orang yang mampu  untuk pergi ke tanah suci)
  5. Puasa pada bulan Ramadhan (menahan diri dari makan, minum dan bersenggama antara suami dan istri, dimulai sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat).
 Rukun Iman
  1. Beriman kepada Allah yaitu dengan mempercayai bahwa Allah itu ada dan Maha Esa, baik dalam kekuasaan-Nya maupun dalam hal ibadah kepada-Nya, dalam sifat dan hukum-Nya.
  2. Beriman kepada para Malaikat sebagai makhluk yang diciptakan dari Nur (cahaya) untuk melaksanakan perintah Allah.
  3. Beriman kepada kitab-kitab Allah, yaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran. Dan yang paling utama adalah Al-Quran.
  4. Beriman kepada para Rasul Allah. Yang pertama adalah Nuh sampai yang terakhir Muhammad.
  5. Beriman kepada hari akhir, yaitu hari kiamat sebagai hari perhitungan terhadap amal-amal manusia.
  6. Beriman kepada takdir Allah. Takdir yang baik maupun yang buruk dengan keharusan melakukan ikhtiyar (usaha) dan ridha terhadap hasil yang diperolehnya.

Syafaat yang di bawa Nabi Muhammad kepada Umat Manusia

Pada hari kiamat nanti, Allah swt mengumpulkan semua manusia dari awal hingga akhir di Padang Mahsyar. Saat itu manusia berada dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Mereka ketakutan terhadap apa yang akan terjadi atas diri mereka. Manusia saling berkata, ”Apakah kamu tidak memikirkan penderitaanmu ? Siapakah yang dapat memberikan syafaat untuk kita.”?

syafaat-rasulullah-saw

Sebagian di antara manusia itu berkata, ”Bapak kita kan Adam, mari kita minta syafaat kepadanya.” Mereka berkata, ”Wahai Adam, bapak seluruh umat manusia. Allah swt telah menciptakan engkau dengan tangan-Nya, kemudian Allah  meniupkan roh  ke dalam tubuhmu dan Allah memerintahkan pada malaikat untuk bersujud  di hadapanmu, maukah kamu memberikan  syafaat untuk kami ? Apakah kamu tega melihat kami menderita ? Nabi Adam menjawab, ”Sesungguhnya pada hari ini, Rabbku  telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini. Sesungguhnya Allah swt pernah melarangku mendekati pohon Khuldi, tetapi aku justru melanggar perintah-Nya. Pergilah kalian  kepada yang lain, pergilah  kepada Nabi  Nuh.”

Kemudian manusia pun pergi kepada Nabi Nuh. Mereka berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama di Bumi Allah swt, telah memberimu nama Abdul Syakur (hamba  yang bersyukur). Apakah kamu tega melihat penderitaan kami ? Maukah kamu memberikan syafaat untuk kami ? “Nabi Nuh menjawab, ”sesungguhnya pada hari ini, Rabbku telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini.

Sesungguhnya  aku dahulu telah berdoa yang berisi  keburukan  atas kaumku. Pergilah kalian kepada yang lain ! Pergilah kepada Nabi Ibrahim.”

Kemudian, manusia pergi kepada Nabi Ibrahim, mereka berkata, ”Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi Allah dan juga  kekasih-Nya. Tolonglah kami, berilah kami syafaat dari Allah, apakah engkau tega melihat kami begini”?

Nabi Ibrahim pun menjawab, ”Sesungguhnya pada hari ini, Rabbku telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini. Sesungguhnya aku pernah  berdusta tiga kali. Pergilah kamu kepada yang lain, pergilah kepada Nabi Musa.”

Kemudian, manusia pun pergi kepada Nabi Musa, mereka berkata, “wahai Musa, engkau adalah utusan  Allah. Allah  telah memberikan keutamaan kepadamu dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, engkau pernah berbicara langsung dengan Allah swt. Berikanlah syafaat untuk kami, Apakah engkau tega melihat kami begini.”?

Nabi Musa menjawab, ”Sesungguhnya pada hari ini, Rabbku telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini. Sesungguhnya aku pernah membunuh seseorang tanpa perintah-Nya .Pergilah kepada yang lain, pergilah kepada Nabi Isa.”

Kemudian, manusia pun pergi kepada Nabi Isa, mereka berkata. ”Wahai Isa, engkau  adalah utusan Allah  yang diturunkan kepada Maryam, engkau mampu berbicara kepada manusia  ketika masih bayi. Berikanlah syafaat untuk kami. Apakah  engkau tega melihat kami begini”?

Nabi Isa pun  menjawab, ”Sesungguhnya pada hari ini, Rabbku telah murka  dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini. Nabi Isa tidak  menyebutkan dosa  yang pernah dilakukan. Nabi Isa  berkata, ”Pergilah  kepada yang lain, pergilah  kepada Nabi Muhammad saw.

Kemudian, mereka pun pergi menemui Nabi Muhammad saw, mereka berkata. ”Wahai Muhammad saw, engkau adalah  utusan Allah swt, dan engkau  pula penutup para nabi. Sesungguhnya Allah swt, telah mengampuni segala dosa-dosamu  yang telah  lalu dan dosa  yang akan  datang. Berikanlah syafaat  untuk kami. Apakah engkau  tega melihat kami begini”?.

Nabi Muhammad saw pergi  ke bawah Arsy, kemudian bersujud kepada Allah  swt, kemudian membacakan puji-pujian yang belum pernah dia baca dan ucapkan  sebelumnya. Lalu Allah swt berfirman, ”Wahai Muhammad saw, angkatlah kepalamu dan memohonlah, permohonanmu akan Ku kabulkan. Mohonlah syafaat kepada-Ku, engkau akan Ku beri syafaat.”

Rasulullah saw pun mengangkat kepalanya dan berkata, “Umatku ya Rabbi, umatku ya Rabbhi” Allah swt, berfirman. ”Wahai Muhammad saw, masukkanlah orang-orang yang tidak dihisab dari umatmu melalui pintu surga yang berada di sebelah kanan, sedangkan untuk umatmu yang lain, mereka masuk melalui pintu-pintu yang lain. Rasulullah saw bersabda, ”Demi Zat yang jiwaku berada di dalam genggama-Nya, sesungguhnya jarak antara dua pintu surga itu seperti jarak antara Mekkah dan Hijr, atau seperti jarak antara Mekkah dan Bushra.”

Demikianlah, Rasulullah saw, memberikan syafaat untuk umatnya dengan izin Allah swt .Oleh karena  itu hendaknya kita selalu berpegang teguh pada agama Allah swt.
luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com