Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2016

Menghormati Tamu

Tamu adalah raja, itulah kata-kata yang sering kita dengar dan kita dianjurkan untuk menghargai dan menghormati tamu. Cara menghargai dan menghormati  tamu adalah kita harus bersikap ramah dan memenuhi kebutuhan tamu kita. Kita juga diwajibkan untuk menjamu tamu dengan makanan dan minuman. Akan tetapi kewajiban menjamu tamu hanya berlangsung selama tiga hari, jika lebih dari tiga hari, hal itu hanya merupakan sedekah biasa.


Pernah suatu ketika, Abu Hafsh menjadi tamu pada salah seorang tokoh sufi yang terkenal, namanya Syekh Asy-Syibli, beliau bertamu selama empat puluh hari dan selama  itu pula beliau disajikan dengan berbagai macam makanan dan minuman.

Setelah masa bertamu itu, Abu Hafsh pun hendak pamit, beliau berkata, ”Apabila engaku datang  ke kotaku, Naishpur,  aku akan mengajarkan kepadamu cara menjamu tamu dan memberikan kemurahan hati yang sejati. ”Asy Syibli bertanya keheranan, ”Apakah kesalahan yang aku buat selama menjamu Anda.”? Abu Hasfh menjawab, ”Engkau telah mempersulit dirimu sendiri, hidangan yang berkelebihan  tidak sama dengan kemurahan hati. Sebaiknya engkau menjamu tamu seperti engkau menjamu dirimu sendiri.sesuaikan dengan kemampuan sendiri dan jangan terlalu memaksakan diri.dengan demikian, kedatangan tamu tidak dianggap sebagai beban yang menyulitkan dan kepergian tamu tidak dijadikan alasan untuk merasa lega. jika terlalu berkelebihan, kita tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang pemurah.”

Beberapa waktu kemudian.Asy-Syibli datang bertamu ke Naishpur bersama dengan empat puluh orang sahabatnya. Mereka menginap di rumah Abu Hafsh. Pada saat malam tiba, Abu Hasfh menyalakan empat puluh satu lampu untuk menerangi dirinya sendiri dan seluruh tamunya.

Melihat hal itu, Asy-Syibli menegur Abu Hafsh”Wahai Abu Hafsh, anda pernah menasehati aku supaya tidak berkelebihan dalam menjamu tamu, tetapi mengapa engkau sendiri berkelebihan”? kalau memang demikian, cobalah kamu padamkan lampu-lampu itu jawab Abu Hafsh.

Setelah Asy-Syibli pun menuruti perintah Abu Hafsh untuk memadamkan lampu-lampu itu. Akan tetapi dia hanya  mampu memadamkan satu lampu yang berada di dekat Abu Hafsh, sedangkan ke empat puluh lampu lainnya  tidak dapat dipadamkan.Asy- Syibli bertanya dengan keheranan. ”Wahai guru yang mulia, apa  artinya semua ini?” Abu Hafsh  pun menjawab. ”Kalian datang sebagai  empat puluh  tamu Allah swt. Demi Allah, aku  niat menyalakan lampu untuk menerangi ke empat puluh tamu Allah swt dan sebuah  lampu lagi untuk diriku sendiri. Ke empat puluh  lampu yang dinyalakan dengan  niat untuk Allah swt, tidak dapat engkau padamkan, sedangkan satu lampu yang dinyalakan  untukku sendiri  dapat engkau padamkan. Ingatlah semua  perbuatan  yang kamu lakukan selama aku bertamu di rumahmu. Engkau lakukan semuanya  untuk menyenangkan aku. Akan tetapi  semua yang  kulakukan di sini aku niatkan untuk keridhoan Allah swt.Jadi semua yang kamu lakukan dulu merupakan perkara yang berkelebihan. Itu semua bukanlah kemurahan hati yang sebenarnya.”

Oleh karena itu, hendaklah kita menjamu tamu dengan sewajarnya, tidak berkelebihan dan tidak memaksakan diri.Sebagai tamu, kita juga hendaknya mengerti keadaan tuan rumah agar tidak menyusahkannya.

“Orang yang menunjukkan kebaikkan pada Anda adalah sahabat yang baik, dan orang yang menunjukkan kesalahan pada anda adalah sahabat yang paling baik.”

Memuliakan anak yatim

Kisah berikut ini patut kita renungkan. Adalah Pak Syarif, lelaki tua yang bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Brunei Darussalam. Di sana, ia bekerja sebagai tukang potong rambut di sebuah perumahan. Pekerjaan yang sudah ditekuni salama 15 tahun itu tidak membuatnya terikat dengan satu rumah saja, sehingga ia dengan leluasa bergaul dengan sesama TKI.

Salah satu aktivitasnya adalah mengkoordinir beberapa kawan TKI untuk menyisihkan sebagian rezekinya. Setahun sekali ia menyumbangkan dana yang terkumpul ke beberapa pesantren di pulau Jawa. Pemahaman agama Pak Syarif cukup baik. Maklumlah, ia salah satu alumni di sebuah pesantren di Kediri, Jawa Timur. Istrinya seorang hafizah, penghafal Qur’an tiga puluh juz. Subhanallah! Tak mengherankan bila banyak orang bertandang ke rumahnya untuk bertanya mengenai agama.


Menurut beberapa orang yang mengenal, Pak Syarif seorang yang biasa-biasa saja, artinya ketika berbicara soal Islam, ia tidak muluk-muluk. Suatu hari, Pak Syarif berujar pada salah satu rekannya yang akan kembali ke Indonesia.”Kalau kamu nanti sudah sampai di Tanah Air, carikan saya anak yatim ya…!

Kalimat itu membuat rekannya kaget. Dalam hati ia berkata, “Belum pernah saya bertemu orang yang akan menghidupi anak yatim. Kalau orang yang mencari dana untuk anak yatim sih sering,”

Belakangan diketahui bahwa dengan hasil usahanya di negeri seberang itu, Pak Syarif telah membeli tanah, ladang dan sawah di kampung halamannya di Ngawi, Jawa Timur. Ia juga telah membeli mesin penggiling padi dan mesin pembuat tahu yang di kelola saudara-saudaranya. “Saya mempunyai cita-cita membuat semacam pesantren dan usaha untuk anak yatim. Alhamdulillah, hasil sawah, ladang, usaha penggilingan, insya Allah sudah bisa menghidupi lebih seratus anak yatim.”

Allahu Akbar, cerita itu sungguh menggetarkan sanubari rekan Pak Syarif, ia tidak menyangka bapak tua yang bertampang sangat ndeso itu memiliki tujuan mulia. “Saya ingin membangun rumah di Surga,” tutur Pak Syarif lirih kepadanya. Karena itu, si rekan pun dengan antusiasnya berujar, “Ya, saya siap membantu!”

Hati siapa yang tidak bergetar melihat apa yang diperbuat Pak Syarif. Di balik sosoknya yang sederhana menyimpan akhlak yang sangat mulia. Pak Syarif adalah segelintir orang yang berkeras untuk mengoptimalkan kerja tubuhnya (berjihad) dan kerja hati (ikhlas) untuk menggapai apa yang diimpikan oleh setiap muslim, yakni mencari ridha Allah dan meniatkan diri untuk membeli surga.

Mari kita bercermin dari sikap Pak Syarif, sudahkah kita mengikutinya? Sudahkah kita mengalokasikan rezeki kita untuk mereka, anak-anak yatim yang mulia? Syukurlah jika kita sudah melakukannya atau berniat untuk mengikutinya.

Berbuat baik terhadap anak yatim adalah salah satu misi terpenting dalam Islam. Al-Qur’an membahas masalah ini sebanya 23 kali. Bahkan tanda bahwa orang tersebut benar imannya adalah berbuat baik kepada anak yatim (lihat QS. Al-Baqarah: 177).

Banyak bencana terjadi di negeri kita, seperti tsunami, gempa, banjir, tanah longsor dan beberapa kecelakaan transportasi yang merenggut banyak korban jiwa. Ratusan anak kehilangan orang tuanya. Mereka tidak hanya membutuhkan dana untuk menggapai masa depan, tapi yang tak kalah pentingnya adalah mereka juga butuh perhatian dan kasih sayang.

Memang, lembaga pemerintah dan swadaya masyarakat membuat panti-panti mengasuh anak-anak tersebut. Namun, mereka sejatinya membutuhkan rumah dan keluarga untuk menggantikan yang telah terenggut dari mereka.

Rasulullah mengingatkan, “Sesungguhnya seorang laki-laki mengeluh kepada Nabi saw. Karena hatinya yang keras. Nabi berkata, ‘Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin’.” (HR.Ahmad).

Sungguh pahala yang luar biasa akan diberikan kepada mereka yang memelihara dan merawat anak yatim. ”Orang-orang yang memelihara anak yatim dijamin masuk surga, bagaikan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah.”(HR. Muslim).

Hadits tersebut menunjukan betapa besarnya pahala yang diterima bagi mereka yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang. Hadits yang lain menyebutkan bahwa pangkal keluarga yang selalu diterangi dengan kegembiran, kehangatan dan keharmonisan adalah rumah yang didalamnya terdapat anak yatim.

“Dan seburuk-buruknya rumah kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk.”(HR. Ibnu Majah)

Peringatan Rasulullah saw Itu benar terjadi. Kita tidak bisa menutup mata, banyak sekali peristiwa di mana anak yatim diperlakukan dengan tidak semestinya, menghardik, berlaku sewenang-wenang, diperlakukan dengan kasar, bahkan harta mereka diambil. Merekalah yang di dalam Al-Qur’an digolongkan sebagai pendusta agama
luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com